Skip to main content

Ioda Academy

Marcom & Media Relations · 9 menit baca

Strategi Public Relations: Dasar dan Analisis Audiens

Daftar Isi

Sorotan

  • Strategi public relations bukan sekadar menentukan media, membuat press release, atau mengejar jumlah publikasi. Strategi PR perlu dimulai dari riset, tujuan yang terukur, audiens yang jelas, komunikasi yang relevan, dan evaluasi hasil. Framework RACE membantu menyusun proses tersebut secara sistematis. Di sisi lain, stakeholder mapping dan analisis audiens membantu tim PR menentukan siapa yang perlu diprioritaskan, bagaimana karakter mereka, dan pendekatan komunikasi apa yang paling relevan.

Sebuah perusahaan ingin meningkatkan reputasinya di kalangan Gen Z. Tim langsung mengusulkan TikTok, kolaborasi creator, media event, dan beberapa press release. Aktivitasnya terlihat lengkap, tetapi ada pertanyaan yang lebih mendasar: reputasi seperti apa yang ingin dibangun, siapa Gen Z yang benar-benar relevan, apa persepsi mereka saat ini, dan perubahan apa yang ingin dicapai?

Tanpa jawaban tersebut, aktivitas komunikasi mudah berubah menjadi kumpulan taktik yang tidak memiliki arah yang sama. Banyak publikasi belum tentu memperbaiki persepsi. Konten viral belum tentu membangun kepercayaan. Bahkan pesan yang menarik dapat gagal jika disampaikan kepada audiens yang tidak tepat.

Karena itu, strategi public relations perlu ditempatkan sebagai proses komunikasi yang terencana untuk membangun hubungan antara organisasi dan publiknya. Materi Public Relations Specialist Ioda Academy juga menempatkan kemampuan merancang Strategic Communication Plan melalui framework RACE dan stakeholder analysis sebagai fondasi sebelum masuk ke pemilihan kanal maupun penyusunan pesan.

PRSA mendefinisikan public relations sebagai proses komunikasi strategis yang membangun hubungan saling menguntungkan antara organisasi dan publiknya. Definisi ini menegaskan bahwa PR bukan sekadar aktivitas publikasi, tetapi juga berkaitan dengan relationship building, stakeholder engagement, dan bagaimana organisasi dipersepsikan.

Pengertian Strategi Public Relations dan Elemen Utama

Salah satu kesalahan yang cukup umum adalah menyamakan strategi, taktik, dan kampanye. Ketiganya berhubungan, tetapi tidak berada pada level yang sama.

Dalam materi kelas, strategi ditempatkan sebagai arah jangka panjang yang menjawab why dan what. Misalnya perusahaan ingin dipersepsikan sebagai pemain yang transparan dan terpercaya di industrinya. Taktik adalah bentuk eksekusinya, seperti media briefing, thought leadership, kolaborasi dengan KOL, atau webinar. Sementara kampanye merupakan rangkaian aktivitas yang memiliki periode tertentu, misalnya kampanye peluncuran produk selama 90 hari.

Perbedaan ini penting karena strategi public relations tidak seharusnya dimulai dari pertanyaan “kita mau posting apa?” atau “media mana yang akan diundang?”. Pertanyaan awalnya justru perlu menyentuh masalah komunikasi, tujuan organisasi, posisi brand saat ini, persepsi stakeholder, serta perubahan apa yang ingin dicapai.

Tujuan jangka panjang PR juga tidak berhenti pada media placement. Materi menempatkan reputasi dan trust, awareness yang tepat, stakeholder relationship, brand equity, serta license to operate sebagai hasil yang dapat dibangun melalui proses komunikasi jangka panjang.

Artinya, 50 publikasi media belum otomatis menunjukkan strategi berhasil. Jika publik yang menjadi target tetap tidak memahami posisi brand atau tingkat kepercayaan tidak berubah, aktivitas tersebut baru menunjukkan output, belum tentu menghasilkan outcome.

Framework RACE dalam Strategi Public Relations

Salah satu framework klasik yang digunakan untuk menyusun proses PR adalah RACE, yang dikembangkan oleh John Marston. Materi kelas menjelaskan RACE sebagai siklus empat tahap, yaitu Research, Action Planning, Communication, dan Evaluation.

  1. Research. Tahap ini digunakan untuk memahami situasi sebelum komunikasi dilakukan. Tim dapat melakukan audit persepsi, melihat media landscape, menganalisis kompetitor, membaca isu, dan mencari insight audiens. Riset mencegah perusahaan membuat strategi hanya berdasarkan asumsi internal.

  2. Action Planning. Hasil riset diterjemahkan menjadi goal, SMART objectives, penentuan publics prioritas, pesan utama, strategi, taktik, dan timeline. Di sinilah keputusan mengenai fokus komunikasi mulai dibuat.

  3. Communication. Strategi mulai dieksekusi melalui aktivitas seperti media relations, owned content, stakeholder engagement, kolaborasi, event, maupun format komunikasi lain yang sesuai dengan target audiens.

  4. Evaluation. Perusahaan menilai apakah komunikasi menghasilkan perubahan yang diharapkan. Evaluasi tidak berhenti pada jumlah publikasi, impressions, atau reach, tetapi perlu melihat bagaimana audiens menerima pesan dan apakah terjadi perubahan awareness, perception, attitude, maupun behavior.

Framework ini penting karena membuat strategi public relations bekerja sebagai siklus. Evaluation dapat menghasilkan insight baru yang kembali masuk ke Research. Jika hasil menunjukkan persepsi audiens belum berubah, tim tidak harus mengulang aktivitas yang sama. Strategi dapat dikalibrasi berdasarkan data.

AMEC juga menekankan bahwa objective dan measurement perlu menjadi bagian dari perencanaan komunikasi, bukan ditempelkan setelah kampanye selesai. Materi kelas menggunakan Barcelona Principles 3.0 sebagai rujukan evaluasi. Untuk konteks terkini, AMEC telah menerbitkan Barcelona Principles 4.0 pada 2025 yang kembali menegaskan pentingnya mengukur outcome pada stakeholder dan seluruh kanal yang relevan, bukan hanya vanity metrics.

SMART Objectives dan Komponen Strategi yang Membentuk Reputasi

Strategi yang terdengar bagus belum tentu dapat dievaluasi. Kalimat seperti “meningkatkan awareness brand” masih terlalu luas. Awareness di audiens mana? Dari posisi berapa ke berapa? Dalam periode berapa lama?

Karena itu, materi menempatkan SMART Objectives sebagai salah satu komponen penting strategi. Objective perlu Specific, Measurable, Achievable, Relevant, dan Time-bound. Contohnya bukan sekadar “meningkatkan awareness”, tetapi “meningkatkan unaided awareness dari 12% menjadi 20% pada Gen Z Jabodetabek dalam enam bulan”.

Selain objective yang terukur, strategi yang kuat perlu memiliki keterkaitan dengan tujuan bisnis, definisi publics yang tajam, key messages yang konsisten, serta metrik evaluasi yang relevan. Dalam materi, lima komponen utama tersebut adalah business-aligned goal, SMART objectives, publics yang terdefinisi, key messages yang konsisten, dan metrik evaluasi yang valid.

Bayangkan sebuah startup kopi baru mendapat pendanaan dan langsung merencanakan billboard besar dengan klaim “Kopi Terbaik Indonesia”. Aktivitasnya mungkin menghasilkan exposure, tetapi belum ada kejelasan mengenai publics utama, objective yang ingin dicapai, maupun outcome yang akan diukur. Materi menggunakan kasus serupa untuk menunjukkan bahwa awareness tanpa audience definition, SMART objective, dan evaluation framework tetap merupakan taktik yang belum memiliki fondasi strategi.

Inilah hubungan antara strategi public relations dan reputasi. Reputasi bukan dibentuk dari satu kampanye. Ia terakumulasi dari konsistensi antara pesan, pengalaman stakeholder, tindakan organisasi, serta kemampuan perusahaan mempertahankan hubungan dalam jangka panjang.

Komponen Strategi Public Relations

Analisis Audiens dan Segmentasi

Setelah arah strategi ditentukan, pertanyaan selanjutnya adalah siapa yang sebenarnya perlu diajak berkomunikasi?

Jawaban “masyarakat umum” hampir selalu terlalu luas. Investor, karyawan, regulator, pelanggan, media, komunitas, dan partner bisnis memiliki tingkat kepentingan, kebutuhan informasi, serta kemampuan memengaruhi organisasi yang berbeda.

Materi membedakan stakeholders dan publics. Stakeholders merupakan pihak yang terdampak atau mampu memengaruhi organisasi, sedangkan publics merupakan stakeholder yang sudah memberikan perhatian atau merespons isu tertentu dan karena itu menjadi lebih relevan bagi komunikasi PR.

Pembedaan tersebut sejalan dengan Situational Theory of Publics yang dikembangkan James E. Grunig. Teori ini menjelaskan bahwa publics muncul dan berubah mengikuti situasi. Sebagian pihak dapat berkomunikasi secara aktif terhadap sebuah isu, sebagian pasif, dan sebagian mungkin sama sekali belum melihat isu tersebut sebagai persoalan.

Implikasinya penting. Tim strategi public relations tidak harus memberikan intensitas komunikasi yang sama kepada setiap stakeholder. Segmentasi membantu menentukan siapa yang perlu didengar lebih dekat, siapa yang perlu menerima informasi rutin, serta siapa yang cukup dimonitor.

Segmentasi juga membuat pesan lebih relevan dan anggaran komunikasi lebih efisien. Investor mungkin membutuhkan data kinerja dan prospek bisnis. Regulator membutuhkan informasi yang formal dan dapat diverifikasi. Sementara komunitas pelanggan dapat lebih responsif terhadap pesan yang dekat dengan kebutuhan sehari-hari.

Kamu bisa lihat pendukung materi yang relevan jika ingin menghubungkan audience analysis dengan strategi konten, social media, targeting, dan data analytics. Kunjungi LINK

Stakeholder Mapping dengan Mendelow’s Matrix

Salah satu alat yang dapat digunakan untuk menentukan prioritas stakeholder adalah Mendelow’s Power–Interest Matrix. Matrix ini menilai stakeholder berdasarkan dua variabel, yaitu seberapa besar power mereka untuk memengaruhi organisasi dan seberapa besar interest mereka terhadap isu yang sedang dibahas.

Dari kombinasi keduanya, stakeholder dapat dipetakan ke empat pendekatan komunikasi:

Segmentasi Audiens

Power–Interest Grid membantu tim menentukan di mana waktu dan energi engagement sebaiknya dialokasikan. University of Birmingham juga menggunakan pendekatan serupa untuk memvisualisasikan kepentingan relatif stakeholder berdasarkan power dan interest sehingga organisasi dapat menyesuaikan intensitas keterlibatan.

Misalnya sebuah BUMN akan mengumumkan proyek infrastruktur besar. Menteri yang terkait langsung dengan kebijakan dan keberhasilan proyek dapat memiliki power sekaligus interest yang tinggi. Pada situasi tersebut, pendekatannya tidak cukup berupa newsletter massal. Materi menyarankan engagement yang lebih intensif seperti pre-briefing, position paper, serta jalur eskalasi khusus karena stakeholder tersebut berada pada kelompok Key Players.

Namun stakeholder map tidak bersifat permanen. Power dan interest dapat berubah mengikuti situasi. Regulator yang sebelumnya memiliki interest rendah dapat menjadi sangat aktif ketika regulasi baru sedang dibahas. Komunitas kecil yang awalnya tidak memiliki banyak power dapat memperoleh pengaruh besar ketika isu menjadi viral. Karena itu, stakeholder mapping perlu direview secara periodik, bukan dibuat sekali lalu disimpan di folder.

Segmentasi Audiens Berbasis Data untuk Strategi Public Relations

Teknik Analisis Audiens Berbasis Data

Stakeholder mapping memberi tahu siapa yang penting, tetapi belum cukup menjelaskan siapa mereka dan bagaimana sebaiknya mereka diajak berkomunikasi. Di tahap ini, tim perlu memperdalam audience analysis menggunakan data.

Materi kelas mendorong kombinasi riset primer, data sekunder, dan digital listening untuk memperoleh gambaran audiens yang lebih utuh. Metodenya dapat berupa survey dan polling untuk melihat awareness atau preferensi, focus group dan in-depth interview untuk memahami alasan di balik perilaku, social listening untuk membaca percakapan, web dan social analytics untuk melihat pola digital, media audit untuk menilai coverage, serta stakeholder interview untuk memahami publics kunci.

Kekuatan dari pendekatan ini terletak pada triangulasi. Social listening mungkin menunjukkan sentimen negatif meningkat, tetapi tidak otomatis menjelaskan penyebabnya. Survey dapat mengukur seberapa luas persepsi tersebut. Interview atau FGD kemudian membantu memahami konteks dan alasan di baliknya.

Setelah audiens prioritas ditentukan, analisis dapat diperdalam melalui beberapa lapisan karakter. Materi menyarankan melihat demografi, psikografi, perilaku media, information needs, dan trusted sources. Lima lapisan tersebut dapat dikonsolidasikan menjadi Audience Persona agar insight lebih mudah digunakan oleh seluruh tim komunikasi.

Misalnya dua audiens sama-sama berusia 25–30 tahun. Secara demografis mereka terlihat mirip, tetapi satu kelompok mungkin sangat memperhatikan transparansi perusahaan dan aktif membaca media bisnis, sedangkan kelompok lain lebih mengandalkan creator serta komunitas untuk membentuk opini. Strategi komunikasinya tidak seharusnya sama.

Inilah alasan strategi public relations berbasis data tidak cukup menggunakan demografi. Tim perlu memahami kebutuhan informasi, perilaku, sikap terhadap isu, trusted source, serta tingkat keterlibatan audiens. Semakin presisi segmentasinya, semakin mudah menentukan pesan dan pendekatan yang relevan.

Menghubungkan Strategi PR dengan Analisis Audiens

Strategi dan audience analysis sebenarnya bukan dua pekerjaan terpisah. Keduanya saling menentukan.

Framework RACE membutuhkan research sebelum action planning. Salah satu bagian utama research adalah memahami publics. Hasil audience analysis kemudian digunakan untuk menentukan objective, pesan, prioritas stakeholder, serta aktivitas komunikasi. Setelah strategi dijalankan, evaluation kembali melihat bagaimana publics tersebut merespons.

Alurnya dapat dibaca sebagai:

Business Goal → Research → Audience & Stakeholder Mapping → SMART Objectives → Communication Strategy → Execution → Evaluation → Insight Baru

Jika perusahaan langsung memilih kanal sebelum memahami audiens, urutannya terbalik. TikTok, media nasional, newsletter, event, atau press conference hanyalah alat. Kanal baru memiliki nilai ketika dapat menjangkau publik yang relevan dan mendukung outcome komunikasi yang ingin dicapai.

PRSA juga menempatkan fungsi PR sebagai proses influencing, engaging, dan membangun hubungan dengan key stakeholders untuk membentuk bagaimana organisasi dipersepsikan. Karena itu, fondasi strategi public relations bukan seberapa banyak kanal yang digunakan, melainkan seberapa jelas organisasi memahami tujuan dan publik yang ingin dipengaruhi.

Kesimpulan

Strategi public relations yang efektif tidak dimulai dari press release, media event, atau social media calendar. Fondasinya berada pada kemampuan memahami masalah komunikasi, menentukan tujuan, mengenali publics, dan menggunakan data untuk membuat keputusan.

Framework RACE memberikan alur yang sistematis melalui Research, Action Planning, Communication, dan Evaluation. SMART objectives kemudian memastikan hasil yang ingin dicapai cukup spesifik dan dapat diukur. Sementara stakeholder mapping melalui Mendelow’s Matrix membantu menentukan siapa yang perlu mendapat perhatian paling besar berdasarkan power dan interest.

Analisis audiens melengkapi proses tersebut. Stakeholder tidak hanya perlu diberi label seperti “konsumen”, “media”, atau “regulator”, tetapi dipahami berdasarkan kepentingan, perilaku, kebutuhan informasi, tingkat keterlibatan, dan sumber yang mereka percayai.

Ketika strategi dan audience analysis terhubung, PR tidak lagi bekerja dengan prinsip “buat konten sebanyak mungkin lalu lihat mana yang berhasil.” Tim memiliki dasar yang lebih kuat untuk menentukan siapa yang ingin dipengaruhi, perubahan apa yang diharapkan, pendekatan apa yang digunakan, dan bagaimana keberhasilannya akan dievaluasi.

Kelas Terkait

BOOTCAMP - Public Relations Specialist

Tingkatkan kemampuan Public Relations untuk membangun reputasi, menjangkau audiens yang tepat, mengelola media, dan merespons krisis komunikasi dengan percaya diri

Lihat Kelas

Referensi

  1. Public Relations Society of America — About Public Relations
  2. AMEC — Barcelona Principles 4.0
  3. James E. Grunig — Situational Theory of Publics
  4. University of Birmingham — How to Conduct Stakeholder Mapping

Pertanyaan yang Sering Diajukan

Apa yang dimaksud dengan strategi public relations?

Strategi public relations adalah arah komunikasi yang dirancang untuk membantu organisasi membangun hubungan dengan publics dan mencapai objective komunikasi maupun organisasi. Strategi berbeda dari taktik karena menentukan arah dan prioritas sebelum aktivitas seperti media relations, event, atau content production dilakukan.

Apa fungsi framework RACE dalam Public Relations?

RACE membantu menyusun PR melalui empat tahap, yaitu Research, Action Planning, Communication, dan Evaluation. Framework ini membuat aktivitas komunikasi dimulai dari data dan diakhiri dengan evaluasi, bukan sekadar eksekusi.

Mengapa analisis audiens penting dalam strategi PR?

Analisis audiens membantu tim memahami siapa yang perlu diprioritaskan, apa kebutuhan informasinya, bagaimana perilakunya, serta pendekatan komunikasi seperti apa yang lebih relevan. Tanpa segmentasi, pesan berisiko terlalu umum.

Artikel Terkait

Diskusi

Tinggalkan Komentar

Alamat email tidak akan dipublikasikan. Kolom bertanda * wajib diisi.

Panduan Lengkap Pembelian Bootcamp di Ioda Academy

  1. Pilih kelas yang kamu mau, lalu kamu bisa klik “Bayar Sekarang”
    Lihat disini
  2. Isi data diri dan metode pembayaran lalu klik “Bayar”
    Lihat disini
    *Pastikan mengisi data dengan benar karena data tersebut yang dilampirkan di sertifikat
  3. Jika kamu sudah melakukan pembayaran, maka link di Mayar akan berubah menjadi seperti ini. Kamu bisa klik bergabung ke grup Whatsapp yang ada di tampilan layar
    Lihat disini
  4. Selain itu kamu juga bisa cek di Email dengan Subject “Resi Pembayaran dan Akses Kelas”
    Lihat disini
  5. Link zoom selama Bootcamp akan dibagikan melalui Grup Whatsapp
    Lihat disini

  6. Untuk rekaman kelas dan project yang harus dikerjakan selama Bootcamp berlangsung bisa kamu akses di https://studentcenter.learn.iodacademy.id/
  7. Terakhir, enjoy the class🚀

Panduan Lengkap Pembelian Kelas di Ioda Academy

  1. Pilih kelas yang kamu mau, lalu kamu bisa klik “Bayar Sekarang”
    Lihat disini
  2. Isi data diri dan metode pembayaran lalu klik “Bayar”
    Lihat disini
    *Pastikan mengisi email dengan benar karena email itu yang akan digunakan untuk mengakses LMS
  3. Selanjutnya kamu silahkan cek Email dengan Subject “Resi Pembayaran dan Akses Kelas”
    Lihat disini
  4. Semua video learning yang kamu beli dapat kamu akses di https://iodacademy.myr.id/portal dengan cara memasukkan email yang sudah kamu daftarkan di form pendaftaran tadi
    Lihat disini
  5. Terakhir, enjoy the class🚀

Panduan Lengkap Pembelian Workshop Praktikal Bersertifikat di Ioda Academy

  1. Pilih kelas yang kamu mau, lalu kamu bisa klik “Bayar Sekarang”
    Lihat disini
  2. Isi data diri dan metode pembayaran lalu klik “Bayar”
    Lihat disini
    *Pastikan mengisi data dengan benar karena data tersebut yang dilampirkan di sertifikat
  3. Jika kamu sudah melakukan pembayaran, maka link di Mayar akan berubah menjadi seperti ini. Kamu bisa klik bergabung ke grup Whatsapp yang ada di tampilan layar
    Lihat disini
  4. Selain itu kamu juga bisa cek di Email dengan Subject “Resi Pembayaran dan Akses Kelas”
    Lihat disini
  5. Link zoom selama Workshop akan dibagikan melalui Grup Whatsapp
    Lihat disini

  6. Terakhir, enjoy the class🚀