Skip to main content

Ioda Academy

Human Resources · 10 menit baca

Kenapa Hiring Sering Gagal? Cek Proses Recruitment Karyawan

Daftar Isi

Sorotan

  • Hiring yang cepat belum tentu hiring yang efektif. Tujuan recruitment bukan hanya membuat posisi segera terisi, tetapi menemukan kandidat yang sesuai kebutuhan pekerjaan, dapat melewati proses seleksi secara objektif, menerima penawaran, dan mampu berkontribusi setelah bergabung.

Lowongan sudah dipublikasikan, ratusan CV sudah masuk, dan beberapa kandidat sudah diwawancarai. Namun setelah berminggu-minggu, perusahaan tetap belum menemukan orang yang sesuai. Bahkan ketika kandidat akhirnya diterima, ada kemungkinan ia tidak memenuhi ekspektasi atau meninggalkan perusahaan dalam waktu singkat.

Kondisi seperti ini tidak selalu berarti perusahaan kekurangan kandidat berkualitas. Masalahnya bisa berada pada proses recruitment karyawan itu sendiri. Requirement posisi belum jelas, job description terlalu umum, sourcing dilakukan melalui channel yang kurang tepat, screening tidak memiliki standar, atau hiring manager dan recruiter menggunakan kriteria yang berbeda ketika menilai kandidat.

Recruitment karena itu bukan sekadar aktivitas mengisi posisi kosong. CIPD menekankan bahwa recruitment yang baik perlu membantu organisasi memperoleh skill dan kemampuan yang dibutuhkan untuk kebutuhan saat ini maupun masa depan. Prosesnya bergerak dari mendefinisikan role, menarik kandidat, melakukan selection, hingga membuat appointment. (CIPD)

1. Proses Recruitment Karyawan Dimulai dari Kebutuhan yang Jelas

Kesalahan recruitment sering dimulai ketika HR menerima permintaan seperti, “Kami butuh Sales Executive secepatnya.” Jika recruiter langsung membuka lowongan tanpa memahami alasan kebutuhan tersebut, proses berikutnya akan berjalan tanpa dasar yang cukup kuat.

HR perlu mengetahui apakah posisi tersebut merupakan replacement, expansion, atau posisi baru. Jika replacement, apa yang membuat karyawan sebelumnya tidak berhasil atau meninggalkan perusahaan? Jika posisi baru, tanggung jawab apa yang sebenarnya perlu ditangani? Informasi tersebut berpengaruh pada level kandidat, pengalaman, kemampuan, salary range, hingga channel sourcing yang akan digunakan.

Flow Proses Rekrutmen

Secara end-to-end, recruitment dapat bergerak dari perencanaan kebutuhan, penyusunan rencana recruitment, pelaksanaan sourcing dan selection, hingga pencapaian serta evaluasi hasil recruitment. Sebelum pencarian kandidat dimulai, HR dan hiring manager sebaiknya menyamakan beberapa hal seperti:

  • Nama dan level posisi

  • Alasan kebutuhan karyawan

  • Target joining date

  • Hard skill dan soft skill

  • Pengalaman yang dibutuhkan

  • Salary range

  • Tahapan seleksi

  • PIC pengambilan keputusan

Requirement yang matang membuat recruiter mempunyai target yang jelas dan mengurangi perubahan mendadak ketika kandidat sudah masuk pipeline.

2. Riset Posisi Sebelum Menulis Job Description

Recruiter tidak selalu merekrut pekerjaan yang sudah mereka pahami. HR dapat diminta mencari Data Analyst, Procurement Specialist, KOL Specialist, Software Engineer, atau posisi teknis lain yang aktivitas hariannya sangat berbeda dari pekerjaan recruitment.

Karena itu, sebelum membuat job description, recruiter perlu memahami pekerjaan tersebut terlebih dahulu. Riset dapat dilakukan melalui diskusi dengan hiring manager, mempelajari posisi serupa di industri, melihat skill yang umum digunakan, membandingkan job posting kompetitor, dan memahami kisaran pengalaman maupun kompensasinya. Dalam praktik recruitment, riset posisi dapat mencakup nama posisi, persyaratan, job desk, rentang gaji, serta perusahaan pembanding.

Tujuannya bukan membuat recruiter menjadi ahli teknis. HR hanya perlu memahami informasi yang cukup untuk membedakan kandidat yang relevan dengan kandidat yang sekadar mempunyai job title serupa.

Setelah itu, job description dapat dibuat lebih spesifik. Daripada hanya menulis “menguasai pengolahan data”, posisi Data Analyst dapat menjelaskan kebutuhan seperti SQL, Python, pengalaman mengolah dataset, kemampuan menyusun laporan, dan familiarity dengan Power BI atau Tableau. Semakin konkret job description, semakin mudah kandidat melakukan self-screening sebelum melamar.

3. Pilih Sourcing Channel Berdasarkan Kandidat yang Dicari

Tidak semua posisi sebaiknya dicari melalui channel yang sama. Job portal mungkin efektif untuk posisi dengan talent pool besar, tetapi belum tentu menjadi pilihan utama ketika perusahaan mencari kandidat senior yang tidak aktif melamar pekerjaan.

Dalam proses recruitment karyawan, HR dapat menggunakan sumber internal maupun eksternal. Internal recruitment dapat dilakukan melalui internal job posting, promosi, transfer, atau referral. Sementara sumber eksternal dapat berupa job portal, campus hiring, headhunting, social media, professional community, hingga direct sourcing.

Pemilihan channel harus mengikuti karakter kandidat. Fresh graduate bisa lebih mudah ditemukan melalui campus hiring atau job portal. Specialist dapat dicari melalui LinkedIn atau professional community. Posisi senior dan C-level mungkin membutuhkan direct approach atau headhunter karena kandidat potensial belum tentu sedang aktif mencari pekerjaan.

Yang perlu diukur bukan hanya jumlah CV yang masuk. Misalnya job portal menghasilkan 500 applicant tetapi hanya lima kandidat masuk shortlist, sedangkan direct sourcing menghasilkan 40 kandidat dan 15 di antaranya relevan. Dalam kondisi tersebut, volume applicant yang lebih besar tidak otomatis menunjukkan channel yang lebih efektif.

POIN PENTING | BANYAK APPLICANT ≠ SOURCING BERHASIL

Jangan berhenti pada pertanyaan “Berapa CV yang masuk?”

Ukur juga berapa kandidat yang relevan, berapa yang lolos screening, dan channel mana yang paling banyak menghasilkan kandidat berkualitas.

4. Screening dan Shortlisting Harus Menggunakan Kriteria yang Konsisten

Setelah sourcing, HR perlu mengubah kumpulan applicant menjadi shortlist yang layak diproses. Tanpa requirement yang jelas, screening mudah menjadi subjektif. Recruiter bisa terlalu terpengaruh nama universitas, perusahaan sebelumnya, tampilan CV, atau job title tanpa melihat kompetensi sebenarnya.

Screening yang lebih terstruktur membandingkan kandidat dengan kebutuhan posisi. Misalnya Data Analyst membutuhkan pengalaman dua tahun, kemampuan SQL dan Python, familiarity dengan visualization tools, serta komunikasi yang cukup untuk menjelaskan analisis kepada stakeholder nonteknis. Kriteria teknis, soft skill, pengalaman, dan pendidikan dapat digunakan sebagai dasar pencarian kandidat.

HR juga perlu memisahkan must-have dan nice-to-have. Jika seluruh requirement diperlakukan sebagai syarat wajib, talent pool dapat menjadi terlalu sempit. Sebaliknya, jika tidak ada requirement yang benar-benar wajib, recruiter akan memasukkan terlalu banyak kandidat ke tahap interview.

Shortlist yang baik karena itu bukan kumpulan CV yang “kelihatannya bagus”. Shortlist adalah kandidat yang mempunyai evidence paling relevan terhadap kebutuhan pekerjaan dan layak dievaluasi lebih lanjut.

5. Interview Harus Bisa Membandingkan Kandidat secara Objektif

Interview sering menjadi tahap yang paling dipengaruhi intuisi. Kandidat yang komunikatif dan percaya diri dapat memberikan impresi kuat, meskipun kompetensi teknisnya belum tentu lebih baik dari kandidat yang berbicara lebih tenang.

Karena itu, interview sebaiknya mempunyai struktur. CIPD merekomendasikan structured interview dengan pertanyaan serta scoring criteria yang telah ditentukan sebelumnya. Kandidat menghadapi pertanyaan inti yang sama dan jawabannya dinilai menggunakan standar yang konsisten sehingga interviewer lebih mudah membuat perbandingan yang objektif. (CIPD)

Penilaian dapat mencakup kompetensi teknis, pengalaman, problem solving, komunikasi, motivasi, behavioural competency, dan kesesuaian kandidat dengan kebutuhan pekerjaan. Interview juga tidak harus menjadi satu-satunya assessment. CIPD menyarankan penggunaan beberapa metode selection apabila relevan, misalnya task simulation atau assessment lain untuk mendukung hasil interview.

Contohnya, Data Analyst dapat diberikan dataset untuk dianalisis. Copywriter dapat mengerjakan writing test. Kandidat Sales dapat diminta melakukan role-play menghadapi calon customer. Dengan cara ini, HR tidak hanya menilai apa yang kandidat katakan mampu mereka lakukan, tetapi juga melihat evidence dari kemampuan tersebut.

6. Offering dan Onboarding Masih Bagian dari Hiring

Kandidat yang lolos seluruh interview belum otomatis menjadi karyawan. Perusahaan masih perlu menyelesaikan keputusan akhir, menyampaikan penawaran, melakukan negosiasi bila diperlukan, menyiapkan dokumen, dan memastikan kandidat benar-benar bergabung.

Offering perlu menyampaikan informasi penting secara jelas, seperti posisi, compensation, benefit, status kerja, tanggal mulai, serta ketentuan yang relevan. Proses offering juga dapat mencakup final decision, reference checking jika perusahaan menggunakannya, detail penawaran, offer letter, kontrak kerja, follow-up, hingga perencanaan onboarding.

Kecepatan komunikasi menjadi penting pada tahap ini. Kandidat berkualitas dapat menjalani beberapa recruitment process sekaligus. Jika perusahaan membutuhkan waktu terlalu lama untuk memberikan feedback atau offer, kandidat dapat menerima kesempatan lain lebih dahulu.

Setelah offer diterima, HR juga perlu memastikan transisi kandidat menjadi karyawan berjalan baik. Dokumen personal, kontrak, akun kerja, equipment, informasi pra-onboarding, agenda orientasi, hingga mentor atau buddy bila digunakan perlu dipersiapkan. Candidate experience yang baik seharusnya tidak berhenti saat kandidat mengatakan “yes” terhadap offer.

7. Evaluasi Proses Recruitment Karyawan dengan Data

Recruitment tidak selesai hanya karena satu posisi sudah terisi. HR perlu melihat apakah keseluruhan proses menghasilkan kandidat yang berkualitas dengan waktu dan resource yang masuk akal.

Pipeline recruitment dapat menunjukkan berapa kandidat yang apply, berapa yang lolos, berapa yang mencapai interview, bagaimana penggunaan budget, serta apakah timeline recruitment sesuai target. Dari data tersebut, recruiter dapat mengetahui bagian mana yang perlu diperbaiki.

Misalnya 600 kandidat melamar tetapi hanya 10 memenuhi screening. Bisa jadi job posting terlalu luas. Jika 20 kandidat lolos HR interview tetapi hampir semuanya gagal di user interview, kemungkinan terjadi ketidaksamaan requirement antara HR dan hiring manager. Jika banyak kandidat lolos sampai offering tetapi akhirnya menolak, HR perlu mengevaluasi compensation, kecepatan proses, candidate experience, atau ekspektasi yang disampaikan sejak awal.

Beberapa metrik yang dapat digunakan antara lain time to fill, source effectiveness, interview-to-offer ratio, offer acceptance rate, recruitment cost, dan quality of hire. Tidak semua organisasi perlu menggunakan metrik yang sama, tetapi data sebaiknya digunakan untuk menjawab masalah spesifik dalam recruitment.

LinkedIn melalui Future of Recruiting 2025 melaporkan bahwa 89% talent acquisition professionals yang disurvei menilai pengukuran quality of hire akan semakin penting, tetapi hanya 25% yang merasa organisasinya sangat percaya diri mengukurnya dengan efektif. Laporan yang sama juga menunjukkan 93% responden menilai accurate skill assessment penting untuk meningkatkan quality of hire. (LinkedIn)

Bagaimana AI Mengubah Pekerjaan Recruiter?

AI semakin banyak digunakan untuk membantu aktivitas recruitment seperti drafting job description, candidate sourcing, messaging, scheduling, screening support, hingga recruitment analytics. Teknologi ini dapat mengurangi pekerjaan administratif dan memberikan recruiter lebih banyak waktu untuk aktivitas yang membutuhkan judgement manusia.

LinkedIn melaporkan bahwa 37% organisasi dalam riset Future of Recruiting 2025 sudah bereksperimen atau aktif mengintegrasikan generative AI ke dalam recruitment process. Talent acquisition professionals yang menggunakannya melaporkan penghematan rata-rata sekitar 20% dari waktu kerja mereka. (LinkedIn)

Namun, AI tidak memperbaiki recruitment process yang sejak awal tidak jelas. Jika requirement pekerjaan salah, AI hanya membantu menjalankan proses yang salah dengan lebih cepat. Recruiter tetap perlu memahami kebutuhan bisnis, menentukan kriteria kandidat, menilai kompetensi, mengelola hubungan dengan hiring manager, dan mempertimbangkan keputusan secara bertanggung jawab.

Teknologi sebaiknya digunakan untuk memperkuat recruitment logic, bukan menggantikannya.

Mass Hiring dan Senior Hiring Membutuhkan Pendekatan Berbeda

Mass Hiring

Satu framework recruitment dapat digunakan sebagai fondasi, tetapi pelaksanaannya perlu disesuaikan dengan level dan jumlah posisi. Mass hiring, misalnya, berfokus pada perekrutan banyak tenaga kerja dalam waktu relatif singkat. Perusahaan dapat menggunakan job fair, campus hiring, job portal, walk-in interview, group interview, maupun recruitment automation untuk menangani volume kandidat yang lebih besar.

Senior atau executive hiring mempunyai tantangan berbeda. Talent pool lebih kecil, banyak kandidat bersifat passive, confidentiality dapat menjadi lebih penting, dan proses assessment biasanya melibatkan stakeholder dengan level lebih tinggi.

Artinya, proses recruitment karyawan perlu terstruktur tetapi tidak kaku. Requirement, sourcing channel, assessment method, timeline, dan stakeholder dapat disesuaikan dengan karakter posisi tanpa menghilangkan prinsip dasar bahwa keputusan harus mempunyai kriteria yang jelas.

KEY TAKEAWAY

Proses Recruitment Karyawan yang efektif:
Plan → Research → Define → Source → Screen → Assess → Offer → Onboard → Evaluate

Tujuannya bukan sekadar menghasilkan kandidat hired, tetapi membangun proses yang membantu perusahaan menemukan orang yang tepat dan memahami apakah keputusan hiring tersebut benar-benar menghasilkan kualitas yang diharapkan.

Mau Menguasai Recruitment dari Riset Posisi sampai Sourcing?

Recruiter tidak cukup hanya memahami alur hiring secara teori. Kemampuan yang benar-benar digunakan dalam pekerjaan HR meliputi riset posisi, menyusun job description, menentukan sourcing channel, mencari kandidat, screening, dan membuat keputusan berdasarkan requirement.

Program HR Specialist: Belajar Rekrutmen Karyawan & Payroll Ioda Academy mencakup praktik end-to-end recruitment, riset kebutuhan posisi, pembuatan job description, sourcing kandidat, hingga recruitment untuk berbagai level jabatan. Peserta juga mengerjakan project Job Analysis & Riset Posisi dan Proses Sourcing Talent untuk melatih penerapan skill recruitment pada kasus kerja.

Jika membutuhkan format belajar yang lebih fleksibel, program yang sama juga tersedia dalam bentuk recorded workshop dengan modul recruitment dan project sourcing kandidat.

Cek di Sini: Lihat HR Specialist versi Recorded

Kesimpulan

Proses recruitment karyawan tidak dimulai dari interview dan tidak berhenti ketika kandidat menerima offer. Recruitment dimulai dari memahami kebutuhan tenaga kerja, melakukan riset posisi, menyusun requirement, memilih sourcing channel, melakukan screening dan assessment, sampai memastikan kandidat berhasil masuk dan prosesnya dievaluasi menggunakan data.

Kualitas setiap tahap memengaruhi tahap berikutnya. Requirement yang tidak jelas menghasilkan sourcing yang tidak terarah. Screening tanpa standar membuat shortlist tidak konsisten. Interview yang terlalu subjektif meningkatkan risiko keputusan berdasarkan impresi. Sementara recruitment tanpa data membuat HR sulit mengetahui bagian mana yang sebenarnya perlu diperbaiki.

Perkembangan AI dapat membantu recruiter bekerja lebih efisien, tetapi kualitas hiring tetap membutuhkan recruitment logic yang kuat. Fokus akhirnya bukan “berapa banyak kandidat yang berhasil direkrut”, melainkan apakah perusahaan berhasil menemukan talent yang sesuai, melalui proses yang konsisten, objektif, dan dapat dievaluasi.

Kelas Terkait

BOOTCAMP - HR Generalist

Kuasai siklus lengkap manajemen SDM: mulai dari strategi rekrutmen, administrasi payroll dan kompensasi, manajemen kinerja (OKR & KPI), hingga pengelolaan pemutusan hubungan kerja

Lihat Kelas

Referensi

  1. CIPD, Recruitment: An Introduction
  2. CIPD — Selection Methods
  3. LinkedIn — Future of Recruiting 2025

Pertanyaan yang Sering Diajukan

Apa yang dimaksud dengan proses recruitment karyawan?

Proses recruitment karyawan adalah rangkaian aktivitas untuk memenuhi kebutuhan tenaga kerja, mulai dari perencanaan posisi, sourcing, screening, interview, offering, hingga onboarding dan evaluasi hasil hiring.

Apa tahap pertama dalam recruitment?

Tahap pertama adalah memahami kebutuhan posisi. HR perlu mengetahui alasan hiring, tanggung jawab pekerjaan, kompetensi kandidat, level posisi, budget, dan target joining date sebelum mencari kandidat.

Bagaimana cara mengetahui recruitment berjalan efektif?

Gunakan data seperti time to fill, source effectiveness, offer acceptance rate, dan quality of hire. Data tersebut membantu HR melihat apakah proses cepat sekaligus menghasilkan kandidat yang sesuai.

Artikel Terkait

Diskusi

Tinggalkan Komentar

Alamat email tidak akan dipublikasikan. Kolom bertanda * wajib diisi.

Panduan Lengkap Pembelian Bootcamp di Ioda Academy

  1. Pilih kelas yang kamu mau, lalu kamu bisa klik “Bayar Sekarang”
    Lihat disini
  2. Isi data diri dan metode pembayaran lalu klik “Bayar”
    Lihat disini
    *Pastikan mengisi data dengan benar karena data tersebut yang dilampirkan di sertifikat
  3. Jika kamu sudah melakukan pembayaran, maka link di Mayar akan berubah menjadi seperti ini. Kamu bisa klik bergabung ke grup Whatsapp yang ada di tampilan layar
    Lihat disini
  4. Selain itu kamu juga bisa cek di Email dengan Subject “Resi Pembayaran dan Akses Kelas”
    Lihat disini
  5. Link zoom selama Bootcamp akan dibagikan melalui Grup Whatsapp
    Lihat disini

  6. Untuk rekaman kelas dan project yang harus dikerjakan selama Bootcamp berlangsung bisa kamu akses di https://studentcenter.learn.iodacademy.id/
  7. Terakhir, enjoy the class🚀

Panduan Lengkap Pembelian Kelas di Ioda Academy

  1. Pilih kelas yang kamu mau, lalu kamu bisa klik “Bayar Sekarang”
    Lihat disini
  2. Isi data diri dan metode pembayaran lalu klik “Bayar”
    Lihat disini
    *Pastikan mengisi email dengan benar karena email itu yang akan digunakan untuk mengakses LMS
  3. Selanjutnya kamu silahkan cek Email dengan Subject “Resi Pembayaran dan Akses Kelas”
    Lihat disini
  4. Semua video learning yang kamu beli dapat kamu akses di https://iodacademy.myr.id/portal dengan cara memasukkan email yang sudah kamu daftarkan di form pendaftaran tadi
    Lihat disini
  5. Terakhir, enjoy the class🚀

Panduan Lengkap Pembelian Workshop Praktikal Bersertifikat di Ioda Academy

  1. Pilih kelas yang kamu mau, lalu kamu bisa klik “Bayar Sekarang”
    Lihat disini
  2. Isi data diri dan metode pembayaran lalu klik “Bayar”
    Lihat disini
    *Pastikan mengisi data dengan benar karena data tersebut yang dilampirkan di sertifikat
  3. Jika kamu sudah melakukan pembayaran, maka link di Mayar akan berubah menjadi seperti ini. Kamu bisa klik bergabung ke grup Whatsapp yang ada di tampilan layar
    Lihat disini
  4. Selain itu kamu juga bisa cek di Email dengan Subject “Resi Pembayaran dan Akses Kelas”
    Lihat disini
  5. Link zoom selama Workshop akan dibagikan melalui Grup Whatsapp
    Lihat disini

  6. Terakhir, enjoy the class🚀