Skip to main content

Ioda Academy

Marcom & Media Relations · 9 menit baca

PESO Model dan Message House dalam Strategi Public Relations

Daftar Isi

Sorotan

  • Pemilihan kanal komunikasi PR seharusnya mengikuti audiens dan tujuan, bukan sekadar platform yang sedang populer.
  • PESO Model membantu mengintegrasikan Paid, Earned, Shared, dan Owned Media agar setiap kanal saling memperkuat.
  • Setelah kanal ditentukan, Message House membantu menjaga pesan utama, brand pillars, dan proof points tetap konsisten. Inti pesan tidak harus disampaikan dengan format yang sama di setiap kanal, tetapi nilai dan positioning brand perlu tetap terjaga.

Satu brand dapat muncul di media nasional, aktif di Instagram, memasang iklan digital, menerbitkan artikel di website, dan mengajak karyawan membagikan konten perusahaan secara bersamaan. Sekilas aktivitasnya terlihat terintegrasi. Namun jika setiap kanal membawa pesan yang berbeda, audiens justru dapat menerima gambaran brand yang tidak konsisten.

Masalah sebaliknya juga sering terjadi. Pesan sudah tersusun baik, tetapi disampaikan melalui kanal yang tidak sesuai. Investor menerima konten yang terlalu promosional, regulator diajak berkomunikasi melalui format yang terlalu kasual, sedangkan audiens muda hanya menerima press release panjang yang tidak pernah mereka baca.

Karena itu, strategi Public Relations membutuhkan dua keputusan yang berjalan beriringan. Pertama, di mana pesan akan disampaikan. Kedua, pesan apa yang harus tetap diingat audiens setelah komunikasi terjadi.

Pemilihan Kanal Komunikasi dengan PESO Model

PESO Model diperkenalkan Gini Dietrich melalui Spin Sucks pada 2014. Framework ini mengelompokkan kanal komunikasi menjadi empat bagian, yaitu Paid, Earned, Shared, dan Owned Media. Dalam perkembangannya, Spin Sucks menggambarkannya sebagai pendekatan terintegrasi karena kekuatan model tersebut bukan berada pada satu kanal, tetapi pada cara setiap kanal mendukung kanal lainnya.

PESO Model menempatkan empat kategori tersebut sebagai kanal yang saling memperkuat, bukan saling menggantikan.

1. Paid Media adalah ruang komunikasi yang dibayar agar pesan memperoleh distribusi atau amplification tertentu. Contohnya sponsored content, boosted post, native advertising, paid influencer, atau iklan digital. Keunggulannya terletak pada kemampuan memperluas reach dengan cepat dan melakukan targeting. Tantangannya, kredibilitasnya tidak selalu setinggi third-party endorsement dan distribusi biasanya berhenti ketika budget dihentikan.

2. Earned Media merupakan exposure yang diperoleh melalui pihak lain, misalnya liputan jurnalis, wawancara media, review independen, expert commentary, atau publikasi organik. Bagi PR, earned media penting karena membawa validasi dari pihak ketiga. Namun organisasi tidak memiliki kontrol penuh terhadap angle, timing, maupun bagaimana informasi akhirnya ditampilkan.

3. Shared Media mencakup percakapan dan distribusi konten melalui media sosial serta komunitas. Bentuknya dapat berupa user-generated content, repost, komentar, thread, employee advocacy, atau kolaborasi komunitas. Keunggulannya adalah komunikasi dua arah dan feedback yang cepat. Di sisi lain, algoritma, noise, serta risiko isu viral membuat shared media membutuhkan monitoring yang lebih aktif.

4. Owned Media merupakan kanal yang dimiliki dan dikontrol organisasi, seperti website, blog, newsletter, whitepaper, microsite, annual report, atau akun brand. Owned media memberi organisasi ruang paling besar untuk mengontrol narasi dan membangun aset komunikasi jangka panjang. Spin Sucks bahkan menekankan owned media sebagai fondasi penting karena konten yang dimiliki sendiri dapat menjadi bahan untuk didistribusikan melalui kanal lainnya.

Keempat kanal tersebut memiliki keunggulan dan keterbatasan masing-masing. Materi kelas merangkum bahwa Paid kuat dalam scale dan targeting, Earned dalam credibility, Shared dalam engagement, sementara Owned memberikan kontrol dan nilai jangka panjang.

Karena itu, keputusan PR sebaiknya bukan “pilih earned atau social media?”, melainkan “kombinasi kanal apa yang paling sesuai dengan audiens, objective, dan pesan yang sedang dibawa?”

Menentukan Channel-Fit Berdasarkan Audiens dan Tujuan

Kanal yang populer belum tentu kanal yang tepat. Materi menyebut prinsip ini sebagai channel-fit, yaitu menyesuaikan kanal dengan perilaku audiens dan tujuan komunikasi yang ingin dicapai.

Investor, jurnalis, konsumen Gen Z, regulator, dan karyawan tidak memiliki pola konsumsi informasi yang sama. Tim PR perlu menilai tingkat formalitas, kebutuhan data, kredibilitas sumber, bentuk interaksi yang dibutuhkan, serta karakter keputusan yang ingin dipengaruhi.

Contohnya dapat dilihat pada pemetaan berikut:

Channel-Fit Berdasarkan Audiens

Media tradisional dan media sosial tidak perlu dipertentangkan

Materi juga membedakan kekuatan media tradisional dan sosial. Media tradisional cenderung memberi otoritas dan third-party validation, sedangkan media sosial unggul dalam kecepatan, dialog dua arah, dan kemampuan targeting yang lebih spesifik. Kekurangannya pun berbeda. Media tradisional memiliki kontrol narasi yang terbatas dan proses editorial yang lebih lambat. Media sosial bergerak cepat, tetapi memiliki noise tinggi dan risiko reputasi yang dapat berkembang dalam hitungan jam.

Artinya, keputusan yang lebih profesional bukan memilih salah satu secara absolut, tetapi melihat bagaimana keduanya dapat bekerja bersama.

Misalnya perusahaan menerbitkan laporan mengenai inovasi keberlanjutan pada website. Laporan tersebut kemudian dipotong menjadi insight singkat untuk LinkedIn, dibagikan melalui employee advocacy, dan dipitch kepada jurnalis sebagai bahan liputan. Setelah terlihat topik mana yang memperoleh respons terbaik, organisasi dapat menggunakan Paid Media untuk memperluas distribusinya.

Dalam materi, pendekatan operasional tersebut digambarkan melalui alur:

Owned → Shared → Earned → Paid

Konten inti dibuat pada kanal milik perusahaan, disebarkan melalui komunitas, diperkuat validasi pihak ketiga, kemudian konten yang sudah menunjukkan resonance dapat diamplifikasi menggunakan paid media.

PESO Model membuat media planning tidak berhenti pada daftar platform. Setiap kanal memiliki fungsi yang berbeda dalam perjalanan pesan dan reputasi brand.

Penentuan Pesan Utama dan Nilai Brand

Alur integrasi Nilai Brand ke Pesan

Setelah mengetahui kanalnya, tim PR masih membutuhkan satu fondasi lain: apa yang sebenarnya ingin audiens ingat?

Key message bukan kumpulan seluruh informasi yang ingin disampaikan perusahaan. Materi mendefinisikannya sebagai beberapa statement ringkas yang mewakili posisi brand. Pesan yang terlalu banyak akan sulit diingat, disampaikan ulang oleh spokesperson, dan dipertahankan konsistensinya ketika komunikasi bergerak ke banyak kanal.

Key message yang kuat setidaknya perlu memenuhi lima karakteristik penting:

  1. Audience-centric. Pesan menjawab kebutuhan atau kepentingan audiens, bukan hanya membicarakan perusahaan.

  2. Ringkas dan memorable. Satu pesan membawa satu ide utama yang dapat dijelaskan secara sederhana.

  3. Didukung bukti. Klaim memiliki proof point seperti data, hasil riset, testimoni, atau contoh implementasi.

  4. Differentiating. Pesan menunjukkan sesuatu yang relevan dan membedakan brand dari pilihan lain.

  5. Adaptable. Intinya tetap sama, tetapi bentuk penyampaiannya dapat menyesuaikan media dan situasi.

Contohnya, sebuah perusahaan ingin dikenal karena komitmen terhadap efisiensi energi. Kalimat “kami peduli lingkungan” terlalu generik. Pesan menjadi lebih kuat ketika brand dapat mengatakan bahwa teknologi tertentu berhasil mengurangi konsumsi energi dalam jumlah yang terukur dan data tersebut dapat dibuktikan.

Dari sini terlihat bahwa key message bukan slogan. Pesan utama harus berhubungan dengan positioning, kebutuhan stakeholder, dan bukti nyata yang dapat dipertanggungjawabkan.

Message House untuk Menjaga Struktur Pesan

Ketika jumlah stakeholder dan kanal bertambah, tim komunikasi membutuhkan cara untuk menjaga narasi tetap terstruktur. Salah satu framework yang dapat digunakan adalah Message House.

Materi membagi Message House menjadi tiga lapisan utama.

  • Roof berisi core message atau narasi utama. Ini adalah gagasan yang ingin selalu melekat pada brand.

  • Pillars berisi tiga sampai empat tema pendukung yang memperkuat core message. Misalnya performance, credibility, dan impact.

  • Foundation berisi proof points seperti data, hasil penelitian, case study, testimonial, sertifikasi, atau bukti lain yang membuat setiap pillar dapat dipercaya.

Secara sederhana:

Message House

Bayangkan perusahaan teknologi ingin membawa narasi utama:

“Teknologi yang membuat operasional bisnis lebih sederhana dan aman.”

Message House-nya dapat dibangun dengan tiga brand pillars:

  • Efficiency, dengan bukti pengurangan waktu proses.

  • Reliability, dengan data uptime atau SLA.

  • Security, dengan sertifikasi dan sistem pengamanan.

Struktur tersebut memudahkan tim PR melihat apakah sebuah claim benar-benar memiliki proof. Jika tidak ada evidence yang mendukung pillar tertentu, klaim tersebut perlu diperkuat atau ditinjau kembali.

Message House juga berguna ketika banyak fungsi berkomunikasi atas nama perusahaan. CEO, PR, social media team, sales, dan corporate affairs dapat menggunakan sumber pesan yang sama tanpa harus mengucapkan kalimat yang identik.

Membangun Konsistensi Pesan Lintas Kanal

Konsistensi bukan berarti menyalin satu caption ke semua platform. Audiens LinkedIn, Instagram, media nasional, newsletter karyawan, dan town hall memiliki konteks yang berbeda.

Yang perlu konsisten adalah inti pesan dan nilai brand, sedangkan format, panjang, tone, dan cara penyampaiannya boleh beradaptasi.

Materi menggambarkan hubungan tersebut melalui alur:

Brand Values → Brand Voice → Key Messages → Proof in Action

Brand values menjelaskan apa yang dipercaya organisasi. Brand voice menentukan bagaimana nilai tersebut diterjemahkan dalam gaya komunikasi. Key messages membawa nilai tersebut kepada audiens tertentu. Proof in action membuktikan bahwa yang dikatakan brand benar-benar terlihat dalam tindakan.

Konsistensi seperti ini bukan sekadar persoalan estetika. Studi yang diterbitkan dalam European Management Journal menemukan bahwa konsistensi komunikasi yang dipersepsikan audiens memiliki hubungan langsung dengan brand trust dan loyalty. Penelitian lain mengenai integrated marketing communications juga menunjukkan bahwa konsistensi pesan lintas tools dapat memberikan efek positif pada brand image dan brand attitude.

Satu pesan, bentuknya bisa berbeda

Misalnya pesan inti perusahaan adalah:

“Produk baru kami menurunkan jejak karbon 40% dibanding standar sebelumnya.”

Pesan tersebut dapat diterjemahkan berbeda sesuai kanal:

  • Press release: data lengkap, metodologi, quote CEO, dan sumber verifikasi.

  • LinkedIn: infografis singkat, insight utama, lalu tautan ke laporan lengkap.

  • Instagram Reel: video singkat yang menunjukkan perubahan secara visual.

  • Town hall: cerita tentang kontribusi tim dan penjelasan dampaknya terhadap target perusahaan.

Materi menggunakan pola serupa untuk menunjukkan bahwa consistency berarti pesan dan value tetap terjaga walaupun delivery-nya berbeda.

Agar praktik tersebut berjalan, perusahaan dapat membangun beberapa kontrol komunikasi penting, seperti messaging guideline, spokesperson training, approval workflow untuk topik sensitif, dan audit komunikasi berkala. Tujuannya bukan membatasi kreativitas, tetapi memastikan berbagai output tetap mengarah pada narasi yang sama.

Teknik delivery juga dapat divariasikan melalui storytelling, rule of three, repetition with variation, penggunaan pihak ketiga sebagai proof, FAQ untuk mencegah distorsi, serta cadence komunikasi yang konsisten.

Mengintegrasikan PESO Model dan Message House dalam Strategi PR

PESO Model dan Message House menjawab dua persoalan berbeda, tetapi keduanya bekerja lebih kuat ketika digunakan bersama.

PESO Model menjawab:
Di mana dan melalui jenis media apa pesan akan bergerak?

Message House menjawab:
Apa pesan yang harus tetap utuh ketika berpindah dari satu kanal ke kanal lain?

Misalnya sebuah perusahaan meluncurkan layanan baru. Message House menetapkan core narrative bahwa layanan tersebut membuat proses bisnis lebih cepat, transparan, dan aman. Ketiga tema tersebut memiliki data pendukung.

Tim lalu menggunakan PESO Model untuk distribusinya. Website perusahaan memuat artikel utama dan studi kasus sebagai Owned Media. LinkedIn serta employee advocacy berfungsi sebagai Shared Media. Data yang memiliki news value ditawarkan kepada jurnalis untuk Earned Media. Konten dengan engagement terbaik kemudian diperkuat dengan Paid Media. Di setiap kanal, formatnya berubah, tetapi narrative architecture tetap sama.

Pendekatan ini juga membuat evaluasi lebih jelas. AMEC Integrated Evaluation Framework memasukkan Paid, Earned, Shared, dan Owned sebagai bagian dari aktivitas komunikasi yang dapat diukur, lalu menghubungkannya dengan outtakes, outcomes, dan impact pada organisasi.

Dengan demikian, keberhasilan komunikasi tidak cukup dilihat dari apakah seluruh kanal digunakan. Pertanyaannya adalah apakah channel mix mampu menjangkau audiens yang relevan, apakah pesan dipahami, dan apakah komunikasi menghasilkan perubahan yang mendukung objective.

Untuk mendukung dan menambah wawasan kamu mengenai public relations, kamu bisa kunjungi artikel sebelumnya tentang strategi public relatios dari dasar hingga analisis audiens. KLIK DI SINI

Kesimpulan

PESO Model membantu tim Public Relations memilih dan mengintegrasikan kanal komunikasi berdasarkan fungsi Paid, Earned, Shared, dan Owned Media. Framework ini mengurangi kebiasaan memilih media hanya karena sedang populer dan mendorong tim melihat bagaimana setiap kanal dapat memperkuat kanal lainnya.

Namun distribusi yang luas tidak akan banyak membantu jika pesan brand berubah-ubah. Di sinilah Message House berfungsi untuk menyusun core message, brand pillars, dan proof points agar tim mempunyai dasar narasi yang sama.

Strategi yang kuat menghubungkan keduanya. Audiens dan objective menentukan channel-fit. PESO Model menentukan kombinasi media. Message House menjaga keutuhan pesan. Brand values memastikan komunikasi tetap memiliki identitas, sedangkan proof points membuat klaim dapat dipercaya.

Hasil akhirnya bukan sekadar brand yang muncul di banyak tempat, tetapi brand yang menyampaikan pesan yang relevan, melalui kanal yang tepat, dengan nilai yang tetap konsisten ketika audiens berpindah dari satu touchpoint ke touchpoint lainnya.

Kelas Terkait

BOOTCAMP - Public Relations Specialist

Tingkatkan kemampuan Public Relations untuk membangun reputasi, menjangkau audiens yang tepat, mengelola media, dan merespons krisis komunikasi dengan percaya diri

Lihat Kelas

Referensi

  1. Spin Sucks — The PESO Model®
  2. AMEC — Integrated Evaluation Framework
  3. Šerić, M., Ozretić-Došen, Đ., & Škare, V. — European Management Journal

Pertanyaan yang Sering Diajukan

Apa itu PESO Model?

PESO Model adalah framework komunikasi yang mengintegrasikan Paid, Earned, Shared, dan Owned Media. Tujuannya bukan sekadar menggunakan empat kanal sekaligus, tetapi membuat masing-masing kanal saling memperkuat dalam mencapai objective komunikasi.

Apa perbedaan Paid, Earned, Shared, dan Owned Media?

Paid adalah distribusi yang dibayar, Earned merupakan exposure atau validasi dari pihak ketiga, Shared berasal dari interaksi dan distribusi sosial, sedangkan Owned adalah kanal serta konten yang dikontrol organisasi.

Apa yang dimaksud dengan Message House?

Message House adalah kerangka untuk menyusun pesan secara hierarkis. Bagian atas berisi core message, bagian tengah berisi beberapa supporting pillars, sedangkan bagian bawah memuat proof points yang mendukung setiap claim.

Artikel Terkait

Diskusi

Tinggalkan Komentar

Alamat email tidak akan dipublikasikan. Kolom bertanda * wajib diisi.

Panduan Lengkap Pembelian Bootcamp di Ioda Academy

  1. Pilih kelas yang kamu mau, lalu kamu bisa klik “Bayar Sekarang”
    Lihat disini
  2. Isi data diri dan metode pembayaran lalu klik “Bayar”
    Lihat disini
    *Pastikan mengisi data dengan benar karena data tersebut yang dilampirkan di sertifikat
  3. Jika kamu sudah melakukan pembayaran, maka link di Mayar akan berubah menjadi seperti ini. Kamu bisa klik bergabung ke grup Whatsapp yang ada di tampilan layar
    Lihat disini
  4. Selain itu kamu juga bisa cek di Email dengan Subject “Resi Pembayaran dan Akses Kelas”
    Lihat disini
  5. Link zoom selama Bootcamp akan dibagikan melalui Grup Whatsapp
    Lihat disini

  6. Untuk rekaman kelas dan project yang harus dikerjakan selama Bootcamp berlangsung bisa kamu akses di https://studentcenter.learn.iodacademy.id/
  7. Terakhir, enjoy the class🚀

Panduan Lengkap Pembelian Kelas di Ioda Academy

  1. Pilih kelas yang kamu mau, lalu kamu bisa klik “Bayar Sekarang”
    Lihat disini
  2. Isi data diri dan metode pembayaran lalu klik “Bayar”
    Lihat disini
    *Pastikan mengisi email dengan benar karena email itu yang akan digunakan untuk mengakses LMS
  3. Selanjutnya kamu silahkan cek Email dengan Subject “Resi Pembayaran dan Akses Kelas”
    Lihat disini
  4. Semua video learning yang kamu beli dapat kamu akses di https://iodacademy.myr.id/portal dengan cara memasukkan email yang sudah kamu daftarkan di form pendaftaran tadi
    Lihat disini
  5. Terakhir, enjoy the class🚀

Panduan Lengkap Pembelian Workshop Praktikal Bersertifikat di Ioda Academy

  1. Pilih kelas yang kamu mau, lalu kamu bisa klik “Bayar Sekarang”
    Lihat disini
  2. Isi data diri dan metode pembayaran lalu klik “Bayar”
    Lihat disini
    *Pastikan mengisi data dengan benar karena data tersebut yang dilampirkan di sertifikat
  3. Jika kamu sudah melakukan pembayaran, maka link di Mayar akan berubah menjadi seperti ini. Kamu bisa klik bergabung ke grup Whatsapp yang ada di tampilan layar
    Lihat disini
  4. Selain itu kamu juga bisa cek di Email dengan Subject “Resi Pembayaran dan Akses Kelas”
    Lihat disini
  5. Link zoom selama Workshop akan dibagikan melalui Grup Whatsapp
    Lihat disini

  6. Terakhir, enjoy the class🚀